SAWIT SEBAGAI KOMODITAS SUMBER ENERGI BERKELANJUTAN
Industri kelapa sawit
Indonesia terancam setelah langkah Uni
Eropa (UE) pada 22 Mei 2019 mengumumkan pembatasan penggunaan CPO. Indonesia
sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan total produksi 47 juta
ton pada tahun 2018 tentu membuat Indonesia dalam keadaan tertekan. Disisi
negative Indonesia dalam keadaan tertekan, namun disisi yg lain Indonesia
diuntungkan karena sawit sebagai sumber energy di masa depan. Karena energy
fosil akan habis dan suplay terbesar berasal dari Indonesia.
![]() |
| Minyak B20 Source : esdm.go.id |
Seperti yg kita ketahui
pemerintah mulai menggalakan program B20 dimana pemerintah mewajibkan
pencampuran 20% biodiesel dengan 80% bahan bakar jenis solar yg nantinya akan
di wajibkan pada tahun 2020.. Langkah ini diambil pemerintah dengan tujuan
pengurangan impor migas. Dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca
perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD1,90 miliar sepanjang
Januari-Juli 2019. Hingga akhir Juli 2019 impor migas tercatat sebesar USD12,64
miliar, sedangkan ekspor migas sebesar USD7,71 miliar. Dengan demikian, terjadi
defisit migas sebesar USD4,92 miliar sepanjang Januari-Juli 2019.
Berlimpahnya produksi sawit di Indonesia dapat
memberikan keuntungan berupa energy bersih jika diolah dengan cara-cara yg tepat
dan komitmen yg kuat dari para stakeholdernya. Dengan demikian industry hijau yg berkelanjutan (sustain) khususnya
kelapa sawit adalah solusi dari masalah tersebut. Dimana industri hijau bertanggung jawab atas pelestarian
sumber daya terbatas dan tak terbaharui, memantau serta mengurangi tingkat
emisi yang dihasilkan semua unit dan kegiatan usaha, menerapkan kebijakan untuk
memanfaatkannya kembali, serta mendaur ulang dan mengganti kembali bahan yang
dipakai oleh perusahaan.
Dalam hal energi, pemanfaatan biomassa telah menjadi salah
satu contoh industri hijau karena memanfaatkan sumber daya dari alam yang
terbaharui serta membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dari sumber energi
lain. Tidak berhenti di situ saja dengan menggantungkan kebutuhan energi hanya
dari satu sisi. Contohnya dalam industry pengolahan kelapa sawit, buah sawit
dihancurkan untuk mendapatkan minyak di dalamnya. Minyak ini berhasil diperoleh
melalui proses-proses yang membutuhkan energi termal (panas) dan listrik. Proses yang paling awal dilalui
buah sawit yaitu sterilisasi atau perebusan agar buah yang diperoleh dapat
dicacah dan diperas sehingga minyaknya dapat dengan mudah keluar. Sterilisasi
memerlukan energi panas yang berasal dari ketel uap (boiler) dan listrik sebagai penggerak mesin-mesin di dalam
pabrik.
![]() |
| Tandan Kosong Sawit Source : infosawit.com |
Di sisi lain, selain
minyak yg dimanfaatkan buah sawit tentu
akan meninggalkan limbah berupa cangkang sawit dan tandan kosong sawit (TKS)
yang juga merupakan biomassa. Industri yang memerlukan suplai energi ini akan
dengan mandiri menghasilkan energinya melalui utilitas pabrik secara
berkelanjutan. Perusahaan tidak perlu membeli sumber bahan bakar sebagai
pemanas boiler dan pembangkit
listrik, cukup dengan limbah sawit tersebut kebutuhan panas dan listrik dari
pabrik sawit akan terpenuhi. Bahkan, jika energi yang dihasilkan dari
pembakaran biomassa tersebut berlebih, sisanya dapat disalurkan dan
dimanfaatkan oleh warga sekitar.
![]() |
| Proses terbentuknya energi dari biomassa Source : skornews.com |
Limbah sawit yg dihasilkan tadi di proses
dengan pembangkit listrik tenaga biomassa.
Dengan cara umpan bertekanan dari boiler yang
disebut dengan steam akan
dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin dan generator. Steam dari pemanasan air
di boiler akan
ditampung terlebih dahulu di sebuah steam
chamber untuk meningkatkan tekanan dari steam tersebut sebelum
ditabrakkan ke turbin. Tujuannya adalah menghasilkan energi kinetik yang cukup
sehingga turbin dan generator dapat berputar dan menghasilkan listrik yang
optimal. Energi kinetik dari steam telah
diubah menjadi listrik sehingga energi kinetik setelah keluar dari turbin akan
menurun, namun masih dalam bentuk steam bertemperatur
tinggi. Sisa energi inilah yang digunakan untuk proses-proses di dalam industri
yang memerlukan panas di dalamnya, seperti sterilisasi buah sawit hingga
menjaga suhu minyak sawit agar tidak terjadi penggumpalan.
Seiring berjalannya waktu, konsep industry
energy hijau yg berkelanjutan adalah sebuah prasyarat bagi republik ini agar menjadi
bangsa yg mandiri akan energy di masa depan. Karena Indonesia kaya akan sumber energy
sudah seharusnya dimanfaatkan secara maksimal demi kemaslahatan rakyatnya.



Komentar
Posting Komentar